Katanya Pak Yudi sudah sertifikasi ya Pak? Sertifikasi itu bagaimana toh? Apa syaratnya? Guru yang bagaimana yang ikut sertifikasi itu? Tapi Pak Yudi mengajarnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang baru dari Pak Yudi. Kalau begitu gaji Pak Yudi besar ya Pak?
Bertubi pertanyaan yang keluar dari seorang siswa SMP. Sebelum saya sampaikan apa jawabnya, menimbang bagaimana menjawabnya, pernyataan anak tadi muncul seolah menjadi jawab atas tanyanya. “Tapi Pak Yudi mengajarnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang baru dari Pak Yudi.”
Apa yang dilihat, didengar dan dialami siswa tidak selalu sama. Guru profesional, katanya, tetapi biasa saja, tidak ada yang baru darinya. Guru yang tunjangannya satu kali gaji pokok perbulan, tidak ada yang istimewa darinya. Apa ada yang salah dengan definisi profesional? Apakah ada yang salah dengan pemahaman awam tentang profesional?
Kembali ke Pak Yudi. Kata anak tadi, jumlah absennya tidak berkurang. Telat masuk kelas masih sama dengan sebelum mendapat label “guru profesional” Persiapan mengajarnya tidak ada. Catatan pelaksanaan mengajarnya tidak rapi. Kebiasaan marah masih ada. Hasil ulangan tidak diperiksa. Memberi tugas dan PR tidak pernah sedikit.(pada pertemuan berikutnya ngga pernah disinggung) Ada LCD projector di depan kelas dibiarkan dingin.
Koq tidak berubah ya. Padahal itu kan “harga”dirinya. Seberapa tinggi dia memasang harga? atau hanya jadi “komoditi” blocokan yang secara tidak sengaja atau disengaja campur dengan yang berlabel? Anak merekam, teman sejawat, merekam, kepala sekolah, masyarakat sekitar juga tahu. Dinding kelas dan lantai tempat “sujud”nya mestinya juga menjadi saksi atas apa yang pak guru lakukan.
Koq tidak berubah ya, sedangkan Seorang Semar bisa mengalahkan musuh dan menjadi guru bagi “bendoro” tuan nya ketika dia BERUBAH menjadi Ismoyo. Itu cerita wayang. Superman, Spiderman, Ultraman, dll. juga berDAYA JAYA ketika BERUBAH. Apakah kita akan status quo atau akan BERUBAH? Hijrah adalah jalan terbaik.
Koq tidak mau berubah ya, sedangkan seekor ulat tidak mau selamanya diCAP sebagai hama, menjijikkan, menakutkan, membuat gatal, dan segudang alasan lain membuat orang tidak mau berdekat dengannya. Siulat sakit, marah sekaligus evaluasi diri. Bersumpah akan menjadi yang terbaik. Ya, BERUBAH adalah satu-satunya cara dia berDAYA, menarik perhatian, dihargai, dihormati dan diPERHITUNGKAN.
DARI DIHINAKAN siulat berfikir keras, berusaha sekuat tenaga untuk mengubah dirinya, bertapa, tidak makan minum. Dibiarkannya orang mencaci, memaki, mencela, mencerca dengan segala gaya; “Enthung-enthung ndi lor, ndi kidul?”. Diam, benah diri, sadari diri, persiapkan masa depan. Terbang melayang dengan pakaian indah gemerlapan adalah yang ada pada benaknya bila Allah telah ampuni dosanya, kabulkan doanya.








Menurut pendapat saya atas pertanyaan anak-anak tersebut adalah :
1. Ternyata para siswa mampu juga menilai, bagaimana guru yang profesi (profesionalisme guru).
2. Guru yang sudah mendapat sertifikat, agar ditindak lanjuti untuk dibuktikan dilapangan, oleh Dinas Pendidikan melalui Pengawas Sekolah dan hasilnya perlu segera ditindak lanjuti.
3. Untuk mendapat tunjangan profesi guru dituntut harus mengajar 24 jam tatap muka perminggu, yang menjadi pertanyaan apakah persyaratan ini sudah terpenuhi bagi guru yang sudah bersertifikasi. Kalau belum bagaimana cara pemenuhan jam tersebut agar yang berwenang segera menerbitkan petunjuk tehnis yang pasti, karena selama ini pemenuhan jam hanya asal terpenuhi 24 jam dengan tidak memperhatikan keprofesionalismenya. Contoh guru mata pelajaran karena tidak terpenuhi 24 jam kemudian diambilkan jam sebagai guru BK, pada hal ada yang hanya formalitas, tidak mengerjakan tugas-tugas sebagai guru BK.
Semoga ada kawigaten dari yang berwenang, Amin.
Profesionalisme guru adalah profesionalisme dalam tanda kutip yang berbau politis. Profesionalisme yang sesungguhnya baru akan kita lihat melalui generasi guru baru yang memang sejak awal tertarik menjadi guru berkat gaji yang besar, bukan dari pada tidak bekerja. Era guru profesional dalam tanda petik biarlah berlalu terlebih dahulu.
Assalamu’alaikum
Blognya bagus bapak, salam kenal…..
Untuk Guru kalau jaman dulu guru = di gugu dan di tiru … dan kehadirannya ditunggu-tunggu oleh putra/putri didiknya.
salam dr jawa timur
salam kenal juga bu pengawas, smoga, kita jadi, dan mendorong guru jadi yang bisa digugu dan ditiru, yang kehadirannya ditunggu. amien