LIMA LANGKAH MENGANGKAT PERINGKAT PENDIDIKAN DI GUNUNGKIDUL
1. Tanamkan kejujuran dan keadilan
2. Hargai prestasi
3. Terapkan kedisiplinan
4. Galang kerja sama
5. Cukupi dana
1. Tanamkan kejujuran dan keadilan
Kejujuran sebagai modal utama bila kita bermimpi untuk melahirkan generasi cemerlang di negeri ini, ya, setidaknya di Gunungkidul. Kejujuran harus menjadi menu utama bagi semua orang yang terlibat dalam usaha mencerdaskan bangsa; murid, guru, orang tua, masyarakat dan semua elemen stake holder. Jujur mencanangkan cita-cita, jujur mengakui kondisi sosial ekonomi, jujur mengakui kelemahan, jujur menilai, jujur memenuhi kewajiban, dan … jujur dalam segala hal. Orang yang jujur akan selalu berbuat adil.
Salah satu indikator dari keberhasilan dalam menanamkan kejujuran dan keadilan di dunia pendidikan adalah tidak adanya siswa yang menyontek waktu ulangan atau ujian. Siswa mengerjakan soal benar-benar untuk menguji diri sehingga tidak ada bedanya bagi mereka ditunggui pengawas ataupun tidak. Tidak ada nilai rapor yang berbeda dengan nilai ulangan harian atau ulangan akhir semester. Nilai rapor cenderung lebih tinggi dari nilai ulangan harian atau ulangan akhir semester. Mengapa bisa begitu? Siswa yang belajar lebih cepat dan lebih banyak seharusnya akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi dan lulus lebih dulu. Adil.
Tidak ada laporan jumlah siswa fiktif. Tidak ada uang yang dibelanjakan selain untuk yang sudah diprogramkan dan yang diperlukan (bukan yang diinginkan). Tidak ada kekhawatiran orang tua tentang kegiatan anaknya sepulang sekolah, karena anak mereka jujur mengatakan yang mereka lakukan dan melakukan yang mereka katakan.
2. Hargai Prestasi.
Kecuali dengan Ijazah, tepuk tangan dan hadiah, prestasi di negeri ini belum sepenuhnya dihargai. Proses penerimaan pegawai, bahkan penerimaan gurupun masih belum sepenuhnya berdasarkan prestasi. Selama ini seorang calon guru IPA tidak perlu mengerjakan tes pengetahuan IPA, tetapi cukup dengan pengetahuan bahasa, PKn, dan Pengetahuan umum. Penempatan PNS di sebagian jabatan masih kental dengan bagi-bagi kursi, sehingga prinsip the right man on the right place belum diakui keterlaksanaannya. Masih cenderung The man behind the gun. Sertifikasi guru tidak berdasarkan prestasi mengajarnya tetapi dengan nasib baiknya, kuat suaranya, atau kuota yang tersedia. Bagaimana tidak dikatakan nasib baik; Karena kuota untuk sertifikasi GTT seseorang yang baru beberapa tahun atau beberapa bulan menjadi guru bisa memperoleh sertifikat pendidik. Sebulan kemudian diangkat menjadi CPNS karena prioritas pengangkatan adalah guru wiyata bakti. Jadilah dia guru CPNS yang gajinya melebihi gaji guru berpendidikan S1 yang sudah ber “bagimu negeri sebagai pahlawan tanpa tanda jasa” selama lebih dari 20 tahun.
Di dalam kelas, siswa yang menyelesaikan materi lebih cepat dan lebih banyak akan mendapatkan “nilai” yang tidak jauh berbeda dengan siswa yang harus mengikuti pembelajaran remidi. Siswa yang mengerjakan soal remidi 100% mendapatkan nilai 65. Yang benar 90%, 80%, 40%, bahkan 20% juga “diberi” nilai 65. Guru tidak jujur, tidak menghargai prestasi dan sekaligus mendzolimi siswa kelompok menengah ke atas.Bahkan ada guru yang memberi nilai 36 siswanya dengan nilai yang sama. Terendah 75 dan tertinggi 84, yang bila dibulatkan sama-sama 8. Adil, katanya, sama rata sama rasa.
Lulus dan tidak lulus adalah bagian dari ujian. Lulus karena sudah melampaui passing grade dan tidak lulus karena belum bisa mencapainya. Itu adalah hal biasa yang harus diterima oleh semua pihak. Murid nglenggana, guru tahu kondisi, orangtua trima, Kepala Sekolah memahami, Kepala Dinas, DPR dan LSM yang serba bisa mempercayai, dan mengatakan kata yang sama, “Ingin lulus? Ya belajar!”
Tidak menghargai prestasi sama artinya dengan tidak menerapkan prinsip keadilan. Masih banyak lagi contoh tidak dihargainya prestasi secara proporsional sehingga menimbulkan kecemburuan sosial. Hal ini bisa menyebabkan kontra produktif.
3. Kedisiplinan
Kambing hitam lebih banyak disandang oleh guru nglajo, kalau ada guru yang meninggalkan kelas atau terlambat masuk kelas. Tetapi guru pribumi yang gawan bayi itupun jumlahnya masih cukup banyak. Bel sekolah tanda pelajaran pertama dimulai masih mereka dengarkan dari rumah. Anak-anak siap belajar tetapi gurunya masih asyik bercerita tentang berbagai isyu menarik. Guru yang disiplin justru menjadi bahan gunjingan teman sejawat maupun muridnya. Nilai DP3 bagi guru disiplin tidak selamanya lebih baik dari guru yang sukanya ngolor dan menjilat.
Apakah guru dengan pangkat tinggi mengantongi sertifikat sebagai pendidik akan menjamin dirinya lebih baik dari lainnya? Menurutnya mungkin, menurut teman sejawat? Kalau tidak mau mengatakan lebih baik karena ngiri saja. Tetapi bagaimana di mata siswa, masyarakat sekitar? Disiplin masuk sekolah, disiplin masuk kelas, disiplin menyampaikan ilmu, disiplin melaksanakan program, disiplin melakukan evaluasi, dan disiplin melakukan apasaja.
Selama kedisiplinan serta efeknya tidak ditegakkan jangan harap pendidikan kita akan bisa mengejar ketertinggalan dengan negara berkembang tetangga kita.
4. Galang Kerjasama
Guru dengan sesama guru, guru dengan kepala sekolah, guru dengan murid, murid dengan murid, semuanya harus menggalang kerja sama. Satu visi satu misi, satu tujuan dan arah yang sama. Mereka boleh menempati pos dan kepentingan yang berbeda tetapi tetap menggalang kebersamaan.
Dinas Pendidikan adalah kepanjangan tangan dari Pemerintah Kabupaten untuk mengurusi aset besar, generasi penerus bangsa. Dinas Pendidikan mengandalkan sekolah sebagai tempat mendidiknya, dan sekolah memiliki guru-guru sebagai garda terdepannya. Pengawas sebagai tangan Dinas Pendidikan untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan, bersinergi dengan pejabat struktural.
Sekolah dengan komite sekolah, pemerintah setempat, Pemerintah Daerah dengan DPR terhormatnya, Dinas Pendidikan dengan pengawas dan pejabat strukturalnya, serta semua stake holder harus bersatu hand in hand dengan senang hati dalam bekerja sama, tidak saling menjatuhkan, tidak saling mencurigai, tidak saling menggunjing adalah satu indikator terjadinya kerjasama yang baik.
5. Cukupi dana
Jer basuki mawa bea begitulah orang tua kita dulu berprinsip. Kalau ingin mencapai prestasi yang baik harus dicukupi dana yang diperlukan untuk keterlaksanaan program. Sarana prasarana, tenaga kependidikan, kebutuhan yang memerlukan dana yang tidak sedikit. Apabila pemerintah mencanangkan pendidikan gratis, hendaknya pemerintah dapat mencarikan dana yang cukup, tepat waktu dan prosedur pertanggungjawaban yang luwes, dari sumber lain.
Di satu pihak pemerintah menganggap dana dari pemerintah sudah cukup, tetapi tidak pernah memperhitungkan perbedaan kebutuhan anak. “Sama adalah adil dan adil adalah baik”, katanya. Memang benar adil itu baik, tetapi sama belum tentu adil. Sekolah yang memberikan pengalaman belajar siswanya lebih banyak tentunya memerlukan dana lebih besar. Sebaliknya, sekolah yang waton mlaku tentu akan merasa cukup atau bahkan dana dari pemerintah sudah lebih dari cukup.
Waktu pencairan yang terlambat dijamin akan mengurangi produktifitas. Dana dari pemerintah paling cepat bisa dicairkan bulan maret. Apa yang harus dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional selama tiga bulan pertama? Pernah terjadi uang dari pemerintah baru cair pada bulan Agustus. Apa yang bisa dilakukan sekolah untuk menghabiskan “makanan” setahun dalam waktu kurang dari enam bulan?
Nah dari mana kita akan memulai? Jujur dulu, Disiplin, menghargai prestasi, mencukupi dana atau bekerjasama? Simultan dan berkelanjutan. Basmi semua kambing hitam, dan peringkat yang dikehendaki akan diraih. Semoga.








kendala peningkatan pendidikan di gunungkidul di level diy adalah kemiskinan (persentasenya tertinggi di diy) dan sebaran penduduk di wilayah yang luas tetapi kurang makmur
Dikirim pada tanggal 2009/02/16 pukul 12:05
Kemiskinan? Ya, pasti. Tetapi tidak ada yang bisa dilakukan Dinas Pendidikan, Sekolah, atau guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat. Yang bisa dilakukan hanya mengalokasikan cukup dana untuk operasional pendidikan dan sedikit membantu siswa kurang beruntung.