“Gunungkidul peringkat lima? Hebat!” begitu komentar teman Kepala Dinas Pendidikan yang sering diceritakan diberbagai kesempatan. Ya, kalau peringkat 5 itu untuk Jawa Tengah memang hebat, karena lima dari 35 kabupaten. Gunungkidul menduduki peringkat 5 dari 5 kabupaten, alias juru kunci. Apa yang salah dengan pendidikan kita? Siapa yang dengan tulus ikhlas menyandang gelar kambing hitam?, sekolah, murid, guru, kurikulum, system atau yang lain?
Buruk muka cermin dibelah. Itu yang selalu dilakukan penyelenggara pendidikan, selain menobatkan pihak lain sebagai kambing hitam. Guru menyalahkan input, yang nota bene adalah murid sendiri. Dinas Pendidikan yang dibantu sepenuhnya oleh masyarakat menyalahkan guru dan sekolah. Nah ini yang parah, yang penulis katakana sebagai buruk muka cermin dibelah; murid yang berkolaborasi dengan guru, disemangati orang tua mereka menyalahkan ujian nasional.
Ujian, semua ujian termasuk ujian nasional, adalah salah satu cermin pendidikan kita. Ketika hasil UNAS jelek, yang dipersalahkan adalah UNASnya. Apa yang salah dengan penyelenggaraan UNAS? Kalau dikatakan UNAS sebagai satu-satunya algojo rasanya tidak tepat. Coba lihat saja POS UNAS. Lulus UNAS adalah salah satu persyaratan untuk menyelesaikan jenjang pendidikan dasar dan menengah. Masih banyak persyaratan lainnya. Beberapa diantaranya adalah mengikuti pembelajaran selama periode tertentu dengan bukti nilai rapor, akhlak dan budi pekerti minimal baik, lulus ujian sekolah, dan lain-lain.
Bagaimana bila yang tidak memenuhi syarat itu nilai akhlak, Nilai budi pekerti, atau nilai ujian sekolah? Guru, sekolah, dinas pendidikan, bahkan DPR dipastikan akan menganggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Mereka bilang, “Ujian sekolah kan bisa diatur?” “Apa sebegitu jahatnya anak itu hingga nilai budi pekertinya jelek?” Padahal kalau guru sendiri JUJUR, mereka selalu disibukkan oleh acara menggunjing siswa; satu dari mereka mengatakan bahwa si Badu nakal, malas, tidak memperhatikan guru, maka yang lain segera menambah saos, kecap, sambal dan bumbu lainnya, sehingga pestanya semakin ramai. Bila seorang guru mengatakan si Udin itu bodoh, yang lain segera menambah bumbu yang tidak kalah seru. Bahkan ada juga yang segera menunjukkan nilai ulangan mereka yang rata-rata do re mi paling tinggi fa, sebagai bukti fisiknya.
Pada suatu ketika guru mengatakan, “Wah kalau tidak ada UNAS anak-anak tidak bersemangat belajar. Ada UNAS saja mereka malas belajar apalagi tidak ada UNAS. Pada waktu lain mereka cemas, khawatir kalau muridnya tidak lulus UNAS. Apa yang mereka lakukan untuk menghadapi UNAS? Acara strategi suskes UNAS pun digelar, diantaranya adalah penambahan jam belajar dan menyelenggarakan beberapa kali try-out. Bagaimana hasil try-out? Untuk apa? Ya untuk menjajagi pemahaman siswa. Apakah mereka menganalisis hasil try-out? Pertanyaan lain, berapa persen guru yang tersentak ketika menyaksikan hasil try-out rendah? Sebagian mereka menghibur diri; Soal UNAS biasanya lebih mudah; kalau semua jelek, nanti toh ada pertolongan, ada konversi nilai. Yang lain lagi dengan tenangnya bilang, memangnya gua pikirin, nanti toh ada ujian kejar paket, ngapain pusing-pusing.
Kalau kita mencermati dan membandingkan hasil try-out dan UNAS bagi sebagian besar sekolah adalah sangat jauh. Itukah yang dikatakan sebagai keberhasilan program sukses UNAS? Atau karena kekuatan DOA bersama yang mereka gelar bersama antara sekolah, siswa dan orang tua mereka, atau factor X yang lain? Anyway, mereka adalah PAHLAWAN Dinas Pendidikan, penyelamat Pemerintah Kabupaten. Ya, meski tetap peringkat 5, tetapi tidak jauh-jauh amat bila dibandingkan dengan kabupaten kota yang lain. Jumlah yang tidak luluspun tidak terlalu ngisin-isini, begitu komentar mereka.
Bagaimana dengan sekolah yang nilai try-out dan UNAS relatif konsisten? Konsisten baik? Biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Konsisten jelek? Malapetaka. Begitulah yang kurang lebih sering terjadi di negeri tetangga, negeri BBM. Di negeri kita mestinya lain. Sekolah inilah yang menjadi modal sumber daya yang istimewa, kejujuran. Prestasi mereka akan meningkat dan pasti meningkat bila mereka diperlakukan secara adil. Semoga.







